MDA Perkuat Desa Tangguh Bencana melalui Simulasi Dapur Umum di Rante Balla

Berita74 Dilihat

Titikkritis.com,  Luwu  — PT Masmindo Dwi Area (MDA) memperkuat Program Jaga Keselamatan Desa melalui pengembangan kapasitas Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Kamis (13/8/2026).

Penguatan DESTANA kali ini difokuskan pada kemampuan masyarakat dalam mengelola dapur umum sebagai salah satu kebutuhan penting dalam penanganan kondisi darurat pasca bencana.

Kegiatan tersebut dilaksanakan MDA bersama Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), dengan melibatkan Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia (PMI), Pusat Penelitian Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Emergency Response Team (ERT) MDA, serta masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat di tingkat desa.

Dalam simulasi, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai fungsi dapur umum, tetapi juga mempraktikkan langsung tahapan pengelolaannya. Tahapan tersebut meliputi pembagian peran, koordinasi personel, pengelolaan bahan pangan, proses pengolahan makanan, hingga distribusi makanan kepada masyarakat terdampak bencana.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Drs. Rusdin, M.Si., mengatakan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketangguhan desa saat menghadapi bencana.

“Ketangguhan desa tidak hanya diukur dari kemampuan masyarakat menyelamatkan diri dari ancaman bencana, tetapi juga dari kemampuan memastikan tidak ada warga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar setelah bencana terjadi,” kata Rusdin.

Menurut Rusdin, dapur umum menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sosial dalam kondisi darurat. Karena itu, keterlibatan pemerintah, masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan perusahaan diperlukan untuk membangun koordinasi sebelum bencana terjadi.

“Dengan demikian, masing-masing pihak telah memahami peran yang perlu dijalankan ketika menghadapi situasi bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PUSPENA UNCP, Dr. Ichwan Muis, mengatakan kesiapsiagaan masyarakat tidak cukup dibangun melalui pengetahuan teknis mengenai kebencanaan.

Menurutnya, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan mengenali risiko, mengorganisasikan diri, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia di desa ketika menghadapi kondisi darurat.

“Desa Tangguh Bencana dibentuk untuk mengenali risiko, mengorganisasikan masyarakat, dan menciptakan kesadaran sosial untuk menjaga keselamatan desa,” ujar Ichwan.

Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dari Program Jaga Keselamatan Desa.

Menurut Mustafa, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum kondisi darurat terjadi sehingga masyarakat memiliki pengalaman dalam menjalankan peran dan bekerja secara terorganisir ketika bencana terjadi.

“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum kondisi darurat terjadi. Melalui latihan seperti ini, masyarakat tidak hanya memahami perannya, tetapi juga memiliki pengalaman untuk bekerja bersama, mengelola sumber daya yang tersedia, dan merespons situasi secara lebih terorganisir,” kata Mustafa.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas masyarakat melalui simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya MDA untuk memperkuat pelaksanaan Program Jaga Keselamatan Desa.

Simulasi dapur umum di Desa Rante Balla melengkapi rangkaian penguatan DESTANA yang dilaksanakan MDA bersama PUSPENA UNCP dan sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Melalui kegiatan tersebut, kapasitas masyarakat diharapkan semakin kuat sehingga dapat digunakan secara efektif ketika desa menghadapi kondisi darurat atau bencana.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *